Jumat, 09 Februari 2018

TERUNTUK SEBUAH NAMA

TERUNTUK SEBUAH NAMA

Gambar terkait

Untuk sebuah nama,
Yang seringkali ku selipkan dalam do'a
Yang tak henti ku minta dalam kata semoga
Yang selalu menjadi topik dalam tiap cerita
Yang cukup menggetarkan rasa ketika terdengar di telinga
Juga sebuah nama, yang ku dambakan menjadi abjad tereja dalam takdirNya

Untuk sebuah nama,
Yang ku sukai diam-diam
Yang ku perhatikan dari kejauhan
Yang kini tak pernah lepas dari ingatan
Yang ku harap menjadi jawaban dari banyak pertanyaan
Yang juga ku damba untuk menjadi akhir dari penantian

Jika boleh aku meminta,
Jika Tuhan akan memberikannya, dan
Jika takdir akan menjawab "Iya"
Aku ingin nama itulah yang kelak akan membersamaiku dalam mengejar ridhaNya

Sebab nama itulah,
Yang telah memiliki makna di dalam dada
Bahkan, nama itu pula lah yang sudah cukup lama mengukirkan banyak cerita
Meski memang tertulis tanpa disengaja

Untuk sebuah nama,
Masih ada harap yang melekat erat
Namun takkan pernah aku memaksa untuk mengubah apa yang memang telah Tuhan tuliskan
Jika memanglah benar, rasa bahagiaku mungkin takkan mampu ku terjemahkan
Jika ternyata bukan, namamu pastilah hanya akan ku simpan dalam kenangan

Untuk sebuah nama,
Engkau yang tak bosan ku semogakan dalam do'a
Ini hanya sekedar harap yang ku gantungkan kepadaNya
Ku ikhlaskan rasa, dan selalu ku nantikan masa itu tiba
Entah namamu, atau yang lainnya
Waktu lah yang akan menjawab keraguan rasa

Untumu,
Satu nama yang tereja dalam dada
“semoga” itulah yang tertulis di Lauhul MahfudzNya

Kamis, 08 Februari 2018

UNTUKMU YANG SEDANG PATAH HATI

UNTUKMU YANG SEDANG PATAH HATI
Gambar terkait


Untukmu, yang tengah patah hati
Tidak mudah bagi siapapun untuk menghadapi keadaan yang terjadi
Keadaan seakan membuatmu jatuh dan terpuruk sendiri
Hingga kisah hidupmu seperti begitu saja terhenti

Orang-orang disekitarmu mungkin hanya bisa meminta untuk bersabar, sebab mereka tidak sedang merasakan
Kemudian, memberi banyak saran, dan memaksamu untuk kembali menjadi dirimu seperti sebelumnya
Tersenyum, tertawa, haruskah secepat itu menciptakannya setelah hal buruk menimpa?

Untukmu, yang sedang patah hati
Izinkan dirimu untuk bersedih
Menyendirilah jika memang kamu butuh ketenangan
Menangislah sampai kamu lupa rasanya pahitnya sebuah pengharapan

Anggaplah semua itu merupakan terakhir kalinya kamu dikecewakan seseorang
Lepaskan juga seluruh sesak dan kepedihan yang tengah kamu rasakan
Agar bebanmu tidak begitu berat untuk ditanggung sendirian

Setiap kehilangan tentu saja pasti akan mengalami masa peratapan
Kamu bisa melakukannya seperti yang biasa orang lain lakukan

Tetapi,
Setelah kamu mulai bosan meratapi keadaan,
Mulailah bangkit dan bercermin
Lihat dirimu yang sudah begitu hancur karenanya
Sedangkan dia tidak perna peduli tentang keadaanmu akan seperti apa dan bagaimana
Bukankah kamu pun berhak untuk bahagia?

Selalu ada Allah yang menunggumu untuk mengingat dan mendekat padaNya
Selalu ada keluarga yang bisa memberi banyak cinta dengan sempurna
Selalu ada teman atau sahabat yang bisa kamu ajak untuk membagi cerita, dan
Pasti ada seseorang yang akan kamu temukan untuk menjadi teman hidupmu selamanya

Untukmu, yang tengah patah hati
Melupakan tidak semudah membalikan telapak tangan
Setiap kenangan tentangnya pasti sesekali akan terus membayang
Tapi percayalah,
Mendung pasti berganti
Gelap akan berganti terang
Air mata akan berganti senyuman
Duka pun akan berganti kebahagiaan

Bersabarlah,
Karena di setiap kejadian, selalu terselip hikmah dan pelajaran di dalamnya

AKU MENYERAH

AKU MENYERAH

Hasil gambar untuk kenangan WALLPAPER

Aku tidak lupa,
Dari masa pertama kali kita jumpa
Sampai hari-hari yang pernah membuat kita bersama
Kau dan aku telah menuliskan banyak cerita

Rindu,
Mungkin memang iya, sempat ada diantara kau dan aku
Bahkan saat itu aku berani menyebutmu sebagai cinta
Sampai aku lupa bahwa patah hati selalu ada

Jangan lagi,
Jangan bersikap seolah olah kau peduli
Menyebutku sebagai sosok yang berarti
Kemudian membuatku terbuai pada banyaknya janji yang kau beri
Ku mohon jangan lagi,
Karena sikap dan kata-katamu hanya sebatas ilusi

Aku ingin hidup dalam kenyataan saja,
Kini bagimu aku bukan siapa-siapa
Aku hanya kau jadikan tempat persinggahan ketika kau butuh teman cerita
Dan setelahnya, kau pergi begitu saja

Ah sudahlah,
Terlalu pedih jika terus kembali mengenang kisah lalu
Sebab apa yang sempat terlukis dalam angan
Nyatanya tidak sejalan dengan pengharapan

Aku bosan menunggu,
Karena kaupun tak pernah lagi kembali menghampiriku

Aku lelah bertahan,
Jika pada nyatanya keberadaanku tak lagi kau pedulikan

Bahkan aku tidak mau lagi mengejar
Karena langkahmu terlalu cepat untuk ku gapai
Mungkin benar, kita sudah tidak pantas berjalan beriringan

Menyakitiku. Bukankah itu kebiasaanmu?
Membiarkan air mataku jatuh, tanpa pernah kau peduli itu

Aku tidak sekuat karang yang tetap berdiri kokoh meski sering diterjang ombak besar
Aku lelah membiarkan hatiku terus menerus dihantam kepiluan
Sikapmu terlalu sulit untuk ku bahasakan
Hingga aku ragu mempertahankan apa yang pernah sama-sama kita impikan

Aku menyerah,
Pergilah kemana pun kau mau
Tapi jangan lagi kembali mengusik duniaku
Perlahan ikhlas akan hadir bersama waktu

Ada hati yang harus ku selamatkan
Ada masa depan yang harus ku perjuangkan,
Juga ada kehidupan kekal yang harus ku kejar

Izinkan aku meyendiri,
Setelah kau beri banyak luka hati
Aku ingin menyepi agar kembali bangkit untuk berdiri sendiri

Lukaku, dukaku, biarkan itu menjadi urusanku
Pergilah saja dengan langkah yang ingin kau tuju
Kau dan aku, biar hanya sekedar kisah lalu

KENANGAN

KENANGAN

Hasil gambar untuk kenangan WALLPAPER

Dulu, aku sempat menjadikanmu sosok paling istimewa
Seseorang yang seringkali memberiku kebahagiaan sedehana
Bahkan aku pun pernah menganggapmu sebagai cinta
Tak jarang, namamu seringkali menggema di langit do'a

Kau berhasil membuatku jatuh hati
Tentang semua yang ada padamu, seringkali membuatku merindu
Hingga tanpa terasa, sempat tumbuh ambisi untuk memiliki
Rasa takut kehilangan,
Tak ingin ditinggalkan,
Ku akui, itu semua pernah ku rasakan
Meski memang saat itu kau tak pernah benar-benar ku genggam

Karenamu, aku pernah melakukan banyak kekonyolan
Karenamu, aku pernah berani berjuang
Karenamu, aku pernah rela berkorban
Karenamu, aku pernah berani bermimpi dan berangan
Karenamu juga, aku tak pernah mempedulikan batasanku sebagai seorang pria
Yaa, itu benar

Aku pernah merasa jadi pria paling bahagia
Aku pernah merasa begitu sempurna
Mencintai, dicintai
Merindukan, dirindukan
Diperhatikan, dipedulikan, dikhawatirkan
Sesuatu yang selalu ku inginkan,
Sesuatu yang sebelumnya tak pernah ku dapatkan,
Darimu, segalanya telah ku temukan

Dulu, semuanya terkesan begitu menyenangkan
Sampai aku lupa, bahwa sewaktu waktu, kesedihan itu pasti datang
Dan memang benar
Aku yang sempat merasa terbang melayang
Seketika aku dihadiahi kenyataan, bahwa setiap cerita pastilah akan cepat usai

Yang ada, akan menjadi tiada
Yang datang, akan pergi seketika
Dimana ada cinta, pastilah ada luka
Bahagia pun kini hanya berakhir duka
Itulah kehidupan, yang nyata adanya

Tak begitu banyak hal yang ingin ku jelaskan
Aku hanya sedang terluka, dan butuh ketenangan

Terimakasih, sudah pernah membuatku kembali merasakan jatuh cinta
Terimakasih, sudah pernah membuatku lupa tentang pahitnya patah hati yang saat itu tengah ku rasa
Terimakasih, sudah pernah membuatku bangkit dan melawan duka yang pernah ada, hingga ia telah sirna begitu saja
Dan terimakasih, sudah membuatku mengerti dan mampu membedakan antara cinta dengan rasa suka

Tentang kita, ternyata hanya sebatas cerita
Dan kini, aku menyimpanmu di bagian memori utama

IKHLAS ATAU LEPAS

IKHLAS ATAU LEPAS

Hasil gambar untuk melepaskanmu

Jika aku dimampukan untuk mengatur hati manusia, aku ingin mengajakmu bertukar rasa. Agar sesekali kamu turut merasakan berada posisiku seperti apa.

Aku tidak bisa memaksamu untuk belajar paham tentang apa-apa yang tidak bisa ku bahasakan. Perihal sayang, rindu, cemburu, benci, gelisah, semuanya menyatu dalam tubuh perasaan. Aku sudah cukup lama menyembunyikannya dibalik diam yang tidak bisa kamu terjemahkan.

Entah sudah berapa banyak waktu yang ku gunakan untuk terus mencoba berdamai dengan keadaan. Perlahan-lahan aku selalu berusaha menyapu bersih sisa harapan yang masih berceceran. Kemudian, setelahnya aku pun harus bersusah payah melumpuhkan sesuatu yang begitu besar menyimpanmu dalam bentuk kenangan. Dialah ingatan.

Memang benar, namamu masih selalu menggema di jantung do'a. Tapi mungkin takkan selamanya. Barangkali, setelah takdir memintaku untuk bersedia merela, semesta akan kembali mempertemukanku dengan cinta yang berbeda.

Caraku berterimakasih pada takdir hanyalah dengan tidak mengutuk apapun yang pernah ada. Tidak dengan mengenang, menyesali, ataupun menangisi. Akan tiba di suatu hari nanti, saat aku jatuh bangun sendiri untuk menyembuhkan hati dari apa-apa yang begitu melukai.

Aku percaya, skenario-Nya membimbingku untuk mendewasa. Disadari atau tidak, aku terbentuk menjadi pribadi yang lebih kuat dari sebelumnya.



Rabu, 07 Februari 2018

PERAN ULAMA DALAM KEMANDIRIAN BANGSA


PERAN ULAMA DALAM KEMANDIRIAN 

BANGSA

Hasil gambar untuk peran ulama menurut nu


الْحَمْدُ لِلهِ الْوَاحِدِ الْأَحَدْ اَلْفَرْدِ الصَّمَدْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوا أَحَدٌ. 
أَشْهَدُ أَنْ لاَ اَلَهَ إَلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ مَنْ أَرْسَلَهُ اللهُ رَحْمَةً لِجَمِيْعِ الْعِبَادِ. 
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ وَكَرِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ
أمَّا بَعْدُ: فَيَا أيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْــمُتَّقُوْنَ. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Ma’asyirol muslimin wa zumratal mu’minin rahimakumullah,

Marilah kita tingkatkan iman dan taqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menjalankan segala perintah Allah ta’ala dan menjauhi segala larangan-Nya. Semoga amal ibadah kita, baik yang wajib maupun yang sunnah, diterima oleh Allah ta’ala. 

Tidak terasa, jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU), sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia bahkan dunia, sudah sampai pada hari lahir ke-92 pada tanggal 31 Januari. NU adalah organisasi Islam yang didirikan oleh para ulama dan kiai pesantren dan pengikutnya dengan tujuan izzul islam wal muslimiin, yaitu jayanya Islam dan kaum muslimin terutama di Negara Kesatuan Republik Indonesia. NU telah berperan banyak dalam proses dan sejarah berjalannya bangsa ini. Dalam kesempatan ini, khatib akan menyampaikan khutbah dengan tema peran ulama bagi kemandirian bangsa terutama bagi generasi bangsa saat ini dan yang akan mendatang dengan meneladani para ulama pendiri NU di masa lalu. 

Khutbah ini kami sampaikan untuk menyambut dan memperingati Hari Lahir Nahdlatul Ulama ke-92. 

Hadirin, jamaah shalat jum’ah yang semoga dimuliakan oleh Allah,

Allah subhanahu wata‘ala berfirman dalam Surat al-Baqarah ayat 129 yang mengabadikan doa Nabi Ibrahim alahissalam:

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang rasul dari kalang¬an mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab (Al-Qur'an) dan hikmah serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana”. 

Doa ini adalah doa Nabi Ibrahim alaihissalam yang dikabulkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan mengutus Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam di tengah bangsa Arab kala itu dengan membawa risalah Islam yang rahmatan lil alamiin

Dalam ayat tersebut dikatakan bahwa Rasul yang diutus yaitu Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam memiliki tiga misi yaitu: pertama, membacakan ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala; kedua, mengajarkan Al-Qur’an dan al-Hikmah (Sunnah), dan ketiga menyucikan umatnya. 

Rasulullah shallalallahu alaihi wasallam bersabda:

إنَّ الْعُلُمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Artinya: “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak. ” (Hadits Riwayat Imam At-Tirmidzi, Imam Ahmad, Imam Ad-Darimi, dan Imam Abu Dawud)

Para ulama sebagai waratsatul anbiya dan umana’ur rasul (pewaris para nabi dan pemegang amanah dari para Rasul) tentu berkewajiban melanjutkan misi dan tugas dakwah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam tersebut. Tiga misi inilah yang dapat dilakukan oleh para ulama dalam rangka berperan mengembangkan kemandirian bangsa Indonesia, wabil khusus kaum Muslimin. 

Menurut Profesor Quraish Syihab dalam bukunya Membumikan Al-Qur’an, pengertian dari kalimat “membacakan ayat Allah SWT dan mengajarkan kitab dan al hikmah” (tilawah ayatillah dan ta’lim al-kitab wal hikmah) adalah mengajarkan umat, mengisi otak dan mengajarkan bangsa (ta’lim). Sementara, pengertian menyucikan diri (tazkiyatun nafsi) erat kaitanya dengan kegiatan pendidikan (tarbiyah) yang bermaksud untuk mengubah sikap dan perilaku yang dididik. Para nabi dan rasul mereka tidak hanya mengajarkan dan menyampaikan ilmu, tapi mereka juga mendidik umatnya dengan membersihkan diri mereka dari perilaku buruk dan tidak terpuji dengan syariatnya masing-masing. Dengan shalat, dengan puasa, dengan berdzikir, dengan zakat, dengan mengasihi sesama, dengan tolong menolong, dan amaliyah ubudiyah lainnya baik yang mahdloh dan ghair mahdlah. 

Demikian halnya para ulama. Mereka tidak hanya ta’lim tapi juga tarbiyah. Tidak hanya tarbiyah tapi juga ta’lim. Mereka menggabungkan antara dua aspek ini adalah bagi kemandirian umat Islam dan bangsa Indonesia. Kemandirian umat dan bangsa ditentukan oleh seberapa mampu kaum muslimin mengikhlaskan dirinya dalam beribadah kepada Allah SWT, sebagai kunci kemandirian. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengatakan:

الْحَيَاةُ اَلْعِباَدَةُ كُلُّهَا

Artinya: “Kehidupan ini adalah pengabdian total kepada Allah. ”

Bangsa ini mandiri jika bangsa ini mengabdi kepada Allah subhanahu wata‘la. Jika seorang sudah beribadah kepada Allah dengan ikhlas, maka dengan sendirinya dia akan memperoleh kemandirian dalam berbagai bidang kehidupan, baik pribadi, sosial, maupun ekonomi. Hal itulah yang ditunjukkan dan dicontohkan oleh pendiri Nahdlatul Ulama. Seperti Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari yang mendirikan pesantren Tebuireng dengan biayanya sendiri dari hasil berdagang. Kemandirian itu juga ditunjukkan oleh Hadratussyekh dengan tidak takut dan tunduk pada kolonialisme dan penjajahan bangsa asing di masanya. Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’arie memiliki kemandirian dalam berpikir dan bersikap. 

Bahkan dalam periode menuntut ilmu, para ulama kita juga mencontohkan kemandirian tersebut. Syaikhona Kholil Bangkalan dan juga para ulama lainnya dikisahkan menjual hasil karya tulisnya demi biaya hidup dalam menuntut ilmu. Sikap para ulama yang mandiri ini dalam membangun lembaga pendidikan dan juga di dalam berbagai kehidupan menjadi teladan bagi kita semua. Semoga kita semua dapat menirunya. Semoga kita semua juga termasuk orang-orang yang diberikan kekuatan dan kemandirian dalam kehidupan ini bersama Allah subhanahu wa ta’alaAmiin ya rabbal Alamiin

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم